Dedy satrya founder Jurnalis Adventure
LOMBOK TIMUR – Gunung Rinjani bukan sekadar destinasi pendakian. Bagi para pencinta alam, gunung yang berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu menjadi salah satu tujuan yang menyimpan tantangan sekaligus panorama alam yang sulit dilupakan.
Bagi Dedy Satrya, pendakian Gunung Rinjani menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam menuntaskan Top Summit Indonesia. Bersama Jurnalis Adventure, Dedy berhasil mencapai puncak Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun, Lombok Timur, setelah menjalani perjalanan panjang dari Karawang.
Pendakian tersebut berlangsung pada akhir September hingga awal Oktober 2026. Perjalanan menuju Lombok bahkan sudah dimulai Dedy sejak 24 September 2026 dari Karawang dengan menggunakan transportasi umum.
Dari Karawang, perjalanan ditempuh menggunakan bus Haryanto menuju Jawa Timur. Setelah tiba di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur laut menuju Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Perjalanan panjang itu menjadi bagian tersendiri sebelum kaki menginjak jalur pendakian Rinjani.
Sesampainya di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Dedy memilih beristirahat di basecamp dormitory. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi fisik sekaligus mempersiapkan seluruh kebutuhan pendakian dan mengurus administrasi yang diperlukan sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Pendakian resmi dimulai pada 27 September 2026.
Setelah menyelesaikan proses registrasi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, perjalanan menuju jalur pendakian dimulai. Dedy bersama pendaki lainnya bergerak dari kawasan Pos Kandang Sapi menuju camp area Plawangan Sembalun.
Perjalanan menuju camp area tersebut menjadi ujian awal. Jalur yang terus menanjak membuat setiap langkah harus diatur dengan ritme yang tepat. Kondisi fisik, cuaca dan medan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan menuju puncak.
Setelah menempuh perjalanan sekitar delapan jam, Dedy akhirnya tiba di camp area Plawangan Sembalun sekitar pukul 17.00 WITA.
Tenda kemudian didirikan. Tidak banyak waktu untuk bersantai karena target berikutnya sudah menunggu, yakni summit attack menuju puncak Rinjani.
Malam itu menjadi waktu untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga.
Sekitar pukul 01.00 WITA pada 28 September 2026, Dedy kembali memulai perjalanan menuju puncak. Dalam suasana gelap dan udara dingin pegunungan, langkah para pendaki perlahan bergerak mengikuti jalur menuju puncak.
Di sepanjang perjalanan, Dedy beriringan dengan sejumlah pendaki lain yang sebagian besar berasal dari mancanegara.
Pendakian dilakukan dengan menerapkan standar operasional prosedur atau SOP pendakian. Setiap langkah harus diperhitungkan, terutama ketika memasuki bagian jalur yang semakin terjal.
Menjelang pagi, tantangan semakin berat.
Matahari mulai muncul dari ufuk timur sekitar pukul 04.36 WITA. Namun, saat cahaya pagi mulai menerangi kawasan Rinjani, Dedy masih harus menghadapi salah satu bagian jalur yang dikenal menantang, yakni jalur letter L menuju puncak.
Medan tersebut menjadi salah satu ujian terakhir sebelum mencapai titik tertinggi.
Di tengah rasa lelah, dingin dan medan yang terjal, langkah terus dilanjutkan.
Hingga akhirnya, perjuangan itu membuahkan hasil.
Dedy Satrya berhasil mencapai puncak Gunung Rinjani.
Dari ketinggian, panorama alam Lombok terbentang luas. Danau Segara Anak terlihat berada jauh di bawah, berpadu dengan bentang alam pegunungan yang membuat rasa lelah selama perjalanan seakan terbayar.
Cuaca yang cerah turut memberikan kesempatan bagi Dedy untuk menikmati panorama Rinjani dari titik tertingginya.
Di puncak tersebut, Dedy menyampaikan sebuah kalimat yang menggambarkan makna perjalanan yang dilaluinya.
“Bukan gunung yang kami taklukan, tapi diri sendiri.”
Kalimat itu menjadi refleksi perjalanan seorang pendaki yang tidak hanya berhadapan dengan ketinggian, tetapi juga dengan batas kemampuan dirinya sendiri.
Setelah berada di puncak, Dedy kemudian turun dan kembali ke camp area sekitar pukul 10.00 WITA. Waktu selanjutnya digunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan kembali.
Rencana perjalanan selanjutnya harus menyesuaikan dengan kondisi jalur resmi pendakian Gunung Rinjani.
Gunung Rinjani memiliki sejumlah jalur pendakian resmi, di antaranya Sembalun, Senaru dan Torean. Namun, pada periode pendakian tersebut, jalur Torean dan Senaru ditutup oleh pihak Taman Nasional Gunung Rinjani menyusul terjadinya kebakaran pada 24 September 2026 yang berdampak terhadap kawasan jalur pendakian.
Penutupan jalur tersebut membuat pendaki harus mengikuti ketentuan dan informasi resmi dari pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani.
Perjalanan Dedy kemudian dilanjutkan hingga akhirnya pada 30 September 2026 sekitar pukul 17.45 WITA ia kembali menuju basecamp dormitory.
Seluruh rangkaian perjalanan menjadi pengalaman panjang bagi Dedy, mulai dari perjalanan darat dari Karawang, menyeberangi laut menuju Lombok, beristirahat di Sembalun, menapaki jalur pendakian selama berjam-jam, hingga akhirnya berdiri di puncak Rinjani.
Bagi seorang jurnalis sekaligus pencinta alam, perjalanan tersebut bukan hanya tentang mencapai sebuah titik ketinggian.
Ada proses panjang yang harus dilewati. Ada rasa lelah yang harus dikendalikan. Ada ketakutan yang harus dihadapi dan ada kesabaran yang harus terus dijaga dalam setiap langkah.
Gunung pada akhirnya menjadi ruang untuk belajar bahwa perjalanan tidak selalu tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan.
Justru, setiap langkah mengajarkan bagaimana seseorang mampu bertahan ketika perjalanan terasa semakin berat.
Dedy Satrya menutup perjalanan pendakiannya dengan sebuah pesan sederhana yang lahir dari pengalaman di jalur Rinjani.
“Gunung mengajarkan arti sabar dalam setiap langkah. Puncak hanya milik mereka yang bertahan.”












