Karawang Lawan Stunting dengan Inovasi Kreatif dan Kolaborasi Lintas Sektor – Perjalanan Panjang Menuju Generasi Sehat.
KARAWANG – Di tengah hamparan sawah yang luas dan dinamika industri yang terus berkembang pesat di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tersimpan sebuah cerita perjuangan yang mendalam dan penuh inspirasi: upaya gigih pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat untuk memerangi stunting di antara lebih dari 2,5 juta penduduk yang tersebar merata di 30 kecamatan, 12 kelurahan, dan 297 desa. Tantangan gizi yang dihadapi bukan hanya masalah kesehatan semata, melainkan juga soal masa depan sumber daya manusia daerah yang strategis sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia.
Lanskap Angka Stunting: Perjalanan yang Tidak Mulus Tapi Menarik
Perjalanan penurunan angka stunting di Karawang memang tak selalu berjalan mulus, namun setiap fluktuasi menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki strategi. Berdasarkan data resmi dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan secara nasional, pada tahun 2021 sebanyak 20,6% balita di Karawang mengalami stunting – angka yang berada di atas rata-rata nasional pada saat itu. Berkat upaya serius yang dilakukan oleh berbagai pihak, angka ini sempat merosot drastis menjadi 14% pada tahun 2022, mencatat penurunan yang cukup signifikan dalam waktu satu tahun saja.
Namun, tantangan belum berakhir. Pada tahun-tahun berikutnya, data SSGI menunjukkan bahwa angka stunting kembali mengalami kenaikan, yang menjadi peringatan bahwa perjuangan ini tidak bisa dijalankan setengah hati. Sementara itu, data dari sistem informasi elektronik Penanggulangan Program Gizi Buruk Masyarakat (e-PPGBM) menunjukkan tren yang lebih positif dan memotivasi. Pada tahun 2021, prevalensi stunting menurut data ini adalah 2,7%, kemudian turun menjadi 1,54% pada tahun 2023 – pencapaian yang patut diacungi jempol. Meskipun pada tahun 2024 sedikit meningkat menjadi 1,8%, angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Perbedaan angka antara SSGI dan e-PPGBM sendiri disebabkan oleh perbedaan metode pengumpulan data dan cakupan sasaran yang diteliti. Namun, kedua data tersebut memberikan sinyal yang sama: bahwa intervensi yang dilakukan perlu terus diperkuat, struktur program perlu ditata ulang secara lebih sistematis, dan pelaksanaannya harus lebih inklusif agar mampu menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di pelosok desa dan kawasan industri yang seringkali terlupakan.
Perubahan Paradigma: Dari Kampanye Konvensional ke Konten Kreatif yang Menarik
M. Ridwan Salam, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Karawang, menyadari sejak awal bahwa pendekatan lama yang hanya mengandalkan penyuluhan tatap muka dan spanduk biasa tidak lagi efektif untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda dan keluarga yang tinggal di kawasan industri dengan aktivitas yang padat. Sejak tahun 2022, pemerintah daerah mengambil langkah berani dengan mengubah arah strategi komunikasi – dari sekadar kampanye konvensional menjadi komunikasi publik yang kreatif dan adaptif dengan perkembangan zaman.
Tim komunikasi khusus dibentuk untuk menyusun konten edukasi gizi yang menarik dan mudah dipahami. Edukasi tentang pentingnya ASI eksklusif, pola makan seimbang, dan pencegahan stunting disampaikan melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok dengan gaya yang santai namun tetap informatif. Selain itu, juga diproduksi video edukasi dengan durasi singkat, podcast yang bisa didengarkan kapan saja, hingga konten visual berupa infografis dan animasi yang menarik perhatian masyarakat.
Tak berhenti di sana, pemerintah Karawang juga melihat pentingnya kerja sama dengan pihak swasta untuk memperluas jangkauan dan efektivitas program. Melalui kanal Corporate Social Responsibility (CSR), berbagai perusahaan besar yang beroperasi di Karawang turut turun tangan dalam perjuangan ini. Perusahaan seperti Nestle yang fokus pada program gizi anak, Procter & Gamble (P&G) yang mendukung kebersihan dan kesehatan ibu serta anak, hingga Astra Otoparts yang berkontribusi pada pembangunan infrastruktur pendukung kesehatan desa – semua berperan aktif dalam memberikan bantuan baik dalam bentuk dana, sumber daya manusia, maupun produk yang dibutuhkan.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri, kami perlu kolaborasi yang erat dengan semua pihak – mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat, hingga akademisi. Hanya dengan kerja sama yang solid, kita bisa mencapai target penurunan stunting yang kita inginkan,” ujar Ridwan dengan tegas saat ditemui di kantornya.
Beragam Inovasi Lokal yang Berkelas dan Berdampak Nyata
Dari kerja sama yang erat tersebut, lahir sejumlah terobosan khas Karawang yang tidak hanya kreatif, namun juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat:
Geprek ASI – Kampanye yang Menarik Hati Ibu Muda
Salah satu program yang cukup terkenal adalah Geprek ASI, sebuah kampanye promosi ASI eksklusif yang menyasar khusus ibu muda dengan gaya yang kekinian dan mudah diterima. Nama “Geprek” sendiri dipilih karena merupakan makanan yang populer di kalangan muda, sehingga mudah diingat. Program ini tidak hanya memberikan edukasi tentang manfaat ASI eksklusif bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi, namun juga memberikan dukungan praktis berupa pelatihan menyusui, konseling bagi ibu yang mengalami kesulitan menyusui, serta pembagian perlengkapan menyusui yang dibutuhkan. Melalui kampanye ini, banyak ibu muda yang tadinya ragu untuk memberikan ASI eksklusif kini menjadi lebih percaya diri dan memahami pentingnya hal tersebut.
DEBEST – Intervensi Intensif untuk Desa Tertinggal
DEBEST (Desa Berdaya Tangkas Stunting) adalah program intervensi intensif yang berlangsung selama tiga bulan di desa-desa dengan angka stunting tertinggi di Karawang. Program ini melibatkan tim kesehatan yang melakukan kunjungan rumah ke rumah untuk memeriksa kondisi gizi balita dan ibu hamil, memberikan makanan tambahan bergizi, serta melakukan edukasi langsung kepada keluarga tentang pola makan sehat dan sanitasi yang baik. Selain itu, juga dilakukan pembangunan infrastruktur pendukung seperti sumur bersih, tempat pembuangan sampah yang layak, dan fasilitas olahraga masyarakat untuk mendukung gaya hidup sehat.
GESIA – Gerakan Sayang Ibu dan Anak
GESIA (Gerakan Sayang Ibu dan Anak) merupakan program yang fokus pada pemberian perawatan komprehensif bagi ibu hamil, menyusui, dan balita. Melalui program ini, setiap ibu hamil mendapatkan pemeriksaan rutin secara gratis di posyandu atau puskesmas terdekat, serta diberikan suplemen gizi yang dibutuhkan seperti tablet tambah darah dan vitamin. Bagi balita, dilakukan pemantauan pertumbuhan secara berkala, pemberian imunisasi lengkap, dan edukasi kepada orang tua tentang cara merawat dan memberikan makanan bergizi bagi anak-anak mereka.
SADARI – Program Telur untuk Balita Sehat
Melihat bahwa banyak balita di daerah terpencil kekurangan protein hewani, pemerintah Karawang meluncurkan program SADARI (Sayangi Anak dengan Telur Sehari) yang memberikan dua butir telur setiap hari untuk balita sasaran yang memiliki risiko tinggi mengalami stunting. Telur dipilih karena merupakan sumber protein yang baik dan mudah ditemukan serta harganya terjangkau. Program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan balita, namun juga memberikan keuntungan bagi peternak lokal yang menjadi mitra penyedia telur untuk program ini.
BAAS – Bapak Asuh Anak Stunting yang Berpengaruh
Salah satu program yang paling mendapat perhatian dari berbagai pihak adalah BAAS (Bapak Asuh Anak Stunting), yang resmi dicanangkan oleh Bupati dan Wakil Bupati Karawang sejak Juli 2022. Program ini melibatkan sebanyak 36 perusahaan besar yang beroperasi di Karawang serta seluruh pejabat pemerintah daerah untuk menjadi “orang tua asuh” bagi anak-anak yang mengalami stunting. Setiap perusahaan atau pejabat ditugaskan untuk mengawasi perkembangan kesehatan dan gizi beberapa anak stunting, memberikan dukungan materi dan non-materi, serta memastikan bahwa anak-anak tersebut mendapatkan perawatan dan edukasi yang dibutuhkan.
Untuk memastikan kelancaran dan transparansi program ini, Dandim 0604 Karawang ditunjuk sebagai ketua pelaksana, sementara pengelolaan dana yang terkumpul dari berbagai pihak dilakukan secara transparan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Karawang. Setiap bulan, dilaksanakan rapat koordinasi untuk mengevaluasi perkembangan program dan menangani berbagai kendala yang muncul. Hingga saat ini, program BAAS telah berhasil membantu ratusan anak stunting untuk menunjukkan perkembangan pertumbuhan yang positif dan keluar dari kategori stunting.
Model Pentahelix: Kolaborasi yang Tanpa Karawang Lawan Stunting dengan Inovasi Kreatif dan Kolaborasi Lintas Sektor Perjalanan Panjang Menuju Generasi Sehat
Selain berbagai program khusus tersebut, Karawang juga mengembangkan model pentahelix Desa/Kelurahan Tangkas Stunting – sebuah pendekatan integratif yang melibatkan lima elemen utama: pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media massa, dan akademisi. Konsep pentahelix sendiri dipilih karena dipercaya mampu menciptakan sinergi yang kuat di antara berbagai pihak dengan peran dan kontribusi masing-masing.
Program ini awalnya diluncurkan di 5 desa lokus dengan angka stunting tertinggi di Karawang sebagai uji coba. Namun, karena hasilnya sangat memuaskan, kini program ini telah diperluas untuk menjangkau seluruh Desa dan Kelurahan lokus stunting di kabupaten ini. Yang paling menarik adalah bahwa seluruh kegiatan dalam program ini dijalankan tanpa anggaran khusus dari pemerintah daerah. Semua kegiatan didukung oleh gotong royong masyarakat, bantuan sukarela dari dunia usaha, kontribusi dari akademisi dalam bentuk penelitian dan pengembangan program, serta dukungan dari media massa dalam menyebarkan informasi. Komunikasi antar pihak dilakukan secara sederhana melalui grup WhatsApp, yang memudahkan koordinasi dan pemantauan perkembangan setiap hari.
Contoh konkret dari keberhasilan model ini bisa dilihat di Desa Sukamulya, salah satu desa lokus awal program. Dalam waktu satu tahun, angka stunting di desa ini turun dari 22% menjadi 12%, berkat kerja sama yang erat antara pemerintah desa, kader posyandu, perusahaan pabrik tekstil yang ada di sekitar desa, mahasiswa dari universitas lokal yang melakukan pengabdian masyarakat, serta media lokal yang aktif menyebarkan informasi tentang pentingnya pencegahan stunting.
Peran Penting dr. Nurmala Hasanah: Strategi yang Mudah Diingat dan Diterapkan
Di balik semua inovasi dan program yang berjalan, sosok dr. Nurmala Hasanah, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Karawang, memainkan peran yang sangat penting dalam merancang dan melaksanakan strategi komunikasi yang efektif. Ia mengembangkan Strakom Stunting ABCDEFG – sebuah singkatan yang mudah diingat dan mencakup seluruh aspek penting dalam pencegahan dan penanganan stunting:
– A = ASI Eksklusif
– B = Bagan Pertumbuhan Anak
– C = Cuci Tangan dengan Sabun
– D = Diet Seimbang
– E = Eksklusif Makanan Pendamping ASI
– F = Fasilitas Sanitasi yang Baik
– G = Gizi Ibu Hamil dan Menyusui
Strategi ini tidak hanya mudah diingat oleh masyarakat, namun juga mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi edukasi berdasarkan Strakom ini disebarkan melalui berbagai media seperti spanduk, baliho, flyer, dan lembar balik yang ditempel di berbagai tempat umum seperti pasar, kantor desa, puskesmas, dan sekolah. Selain itu, juga dibuat materi audio-visual yang bisa ditayangkan di tempat-tempat umum dan platform digital.
“Kami menyadari bahwa informasi yang sulit diingat tidak akan memberikan dampak apa-apa. Oleh karena itu, kami berupaya untuk memberikan informasi yang gampang diingat oleh masyarakat, sehingga mereka bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa merasa terbebani,” ujar dr. Nurmala dengan senyum hangat.
GRES KECE: Pencegahan Stunting Sejak Remaja
Sadarkan bahwa stunting bukan hanya masalah yang muncul pada masa balita, namun memiliki akar yang bisa ditelusuri hingga masa remaja – terutama pada remaja putri yang nantinya akan menjadi ibu, pemerintah Karawang meluncurkan program GRES KECE (Gerakan Remaja Sehat Keren dan Cerdas Karawang). Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, gizi yang baik, dan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini bagi remaja putri di seluruh sekolah menengah di Karawang.
Melalui program ini, setiap minggu remaja putri mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis di sekolah, termasuk pemeriksaan kadar hemoglobin, pemberian tablet tambah darah (TTD), serta edukasi tentang pola makan sehat dan bahaya merokok. Selain itu, juga diadakan kegiatan olahraga bersama seperti senam dan futsal untuk meningkatkan kebugaran jasmani remaja. Hasilnya sangat luar biasa: dalam waktu dua tahun saja, angka anemia pada remaja putri di Karawang turun dari 30,25% pada tahun 2023 menjadi 28,3% pada tahun 2024.
“Kami fokuskan intervensi pada 3 sekolah dengan persentase anemia tertinggi di Karawang. Pada awalnya, ada 24 kasus anemia berat di ketiga sekolah tersebut. Setelah melakukan intervensi intensif selama satu tahun – mulai dari pemberian TTD secara teratur, edukasi pola makan, hingga olahraga bersama – hanya tersisa 2 kasus yang masih termasuk dalam kategori anemia berat,” jelas dr. Nurmala dengan bangga.
Ia juga menambahkan bahwa dengan melakukan pencegahan anemia menggunakan TTD yang relatif murah, pemerintah daerah bisa menghemat biaya yang cukup besar. “Dari data tahun 2023, jika semua remaja putri anemia di Karawang harus menjalani transfusi darah, biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per orang. Dengan pencegahan menggunakan TTD, kita bisa hemat kurang lebih 3 miliar rupiah per tahun – dana yang bisa kita alokasikan untuk program kesehatan lainnya,” paparnya.
Inovasi Berlanjut dengan Sekolah Balad Tangkas
Tidak puas dengan pencapaian yang telah diraih, pemerintah Karawang terus berinovasi dengan meluncurkan program baru bernama Sekolah Balad Tangkas – sebuah program yang mengintegrasikan upaya pencegahan dan penanganan anemia serta stunting ke dalam sistem pendidikan. Program ini telah mendapatkan dukungan resmi melalui Surat Keputusan Bersama dari Sekretariat Daerah, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Dalam program ini, tidak hanya melibatkan sekolah, guru, dan siswa, namun juga aktif melibatkan orang tua siswa untuk bersama-sama menjaga kesehatan dan gizi anak-anak. Salah satu target utama program ini adalah melatih sebanyak 200 siswa dari 200 sekolah pada tahun 2025 (yang merupakan 50% dari total jumlah SMP/SMA dan sekolah sederajat di Karawang) untuk menjadi kader kesehatan remaja atau yang disebut sebagai “Kader Balad Tangkas”. Sisanya akan dilatih pada tahun berikutnya hingga seluruh sekolah di Karawang memiliki kader kesehatan remaja sendiri.
Para kader ini akan dilatih secara intensif tentang materi gizi, kesehatan reproduksi, dan cara menyampaikan pesan edukasi kepada teman sebaya. Mereka akan menyampaikan pesan gizi baik secara langsung melalui kegiatan edukasi di sekolah maupun melalui media sosial dengan membuat konten kreatif seperti video, infografis, dan cerita pendek – dengan siswa sendiri sebagai talentanya. Selain itu, juga disiapkan buku pedoman yang mudah dipahami, media e-booklet untuk remaja, sekolah, dan orang tua, serta berbagai materi pendukung lainnya yang bisa diakses secara online.
Perkuatan Kader Posyandu dengan Program SIGEULIS PISAN
Tak hanya fokus pada kalangan muda dan sekolah, pemerintah Karawang juga tidak melupakan peran penting kader posyandu yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa. Saat ini, terdapat sebanyak 11.975 kader posyandu yang tersebar di 2.395 titik layanan di seluruh Kabupaten Karawang. Setiap tahun, pemerintah daerah mengadakan jambore kader posyandu yang tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, namun juga sebagai uji kompetensi untuk mengevaluasi pengetahuan dan kemampuan para kader. Pada tahun ini, akan dilakukan terobosan baru dengan melaksanakan Webinar Series SIGEULIS PISAN (Siaran Interaktif Gerakan Literasi Sehat Pikeun Kader Posyandu Kasehatan) yang akan digelar setiap bulan. Melalui webinar ini, para kader posyandu dari seluruh pelosok Karawang bisa mendapatkan pelatihan secara daring tanpa harus keluar.(rls/)












