Ini Klarifikasi RSUD Karawang Tidak ada Penolakan Pasien Di sebabkan IGD Penuh

KARAWANG – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang memberikan klarifikasi terkait video viral yang menarasikan adanya dugaan penolakan pasien. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Karawang, dr. Parlindungan, menjelaskan bahwa kondisi fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah tersebut tengah mengalami tekanan hebat akibat lonjakan jumlah pasien yang sangat signifikan.

Menurut dr. Parlindungan, saat insiden tersebut terjadi, ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) sedang menangani pasien dalam jumlah yang jauh di luar kapasitas normal. Dari kapasitas ideal sebanyak 30 tempat tidur, petugas medis di lapangan harus melayani hingga 50 pasien secara bersamaan. Kondisi ini memaksa tim medis bekerja ekstra keras demi memastikan seluruh pasien tetap tertangani.

“Artinya, ini sudah melebihi kapasitas IGD yang hanya bisa melayani 30 pasien. Jadi, effort yang dilaksanakan teman-teman itu sudah mencapai hampir 200 persen dari kemampuan yang ada. Tapi inilah komitmen kita untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar dr. Parlindungan, Senin (4/5).

Ia menyayangkan adanya persepsi penolakan di tengah upaya maksimal yang dilakukan pihak rumah sakit. Namun, ia mengakui bahwa dalam kondisi yang sangat padat overcrowded, risiko terjadinya kendala komunikasi atau hambatan layanan di lapangan sulit untuk dihindari sepenuhnya, terutama terkait aspek kecepatan dan kenyamanan.

Pihak RSUD menjelaskan bahwa petugas di lapangan melakukan penilaian berdasarkan kondisi klinis pasien di tengah keterbatasan ruang. Pada kasus yang viral tersebut, petugas sempat melihat kondisi pasien yang nampak relatif tenang dan stabil. Berdasarkan pertimbangan kemanan dan mutu layanan, petugas menyarankan untuk mencari alternatif rumah sakit lain agar pasien segera mendapatkan penanganan tanpa harus tertahan di IGD yang penuh.

“Petugas kita sempat melihat pasien. Mungkin karena memperhatikan kondisi di lapangan yang sedemikian crowded, kemudian pasien mungkin nampak tenang, sehingga disarankan untuk ke rumah sakit yang lain,” ungkapnya.

Langkah ini diambil guna menghindari risiko keselamatan pasien jika dipaksakan masuk ke ruangan yang sudah tidak lagi memadai.

Lebih lanjut, dr. Parlindungan menyoroti pentingnya sistem rujukan berjenjang bagi masyarakat. Ia mencontohkan jarak tempuh dari wilayah seperti Batujaya menuju pusat kota Karawang yang memakan waktu hingga dua jam. Masyarakat diimbau untuk mendatangi rumah sakit terdekat terlebih dahulu guna stabilisasi kondisi.

Kepadatan tidak hanya terjadi di IGD, tetapi juga berdampak pada tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) di ruang rawat inap. Saat ini, BOR RSUD Karawang dilaporkan berada di angka 92 persen hingga 98 persen. Angka ini jauh melampaui standar ideal yang berada di kisaran 60 persen hingga 80 persen untuk menjamin kelancaran sirkulasi pasien.

 

Manajemen RSUD telah melakukan berbagai upaya mitigasi, termasuk menerapkan sistem “rencana esok pulang” agar pasien bisa mendapatkan terapi lebih awal dan mempercepat mobilisasi ruangan. Pihak rumah sakit bahkan melakukan kebijakan fleksibilitas kelas perawatan, di mana pasien bisa ditempatkan di kelas yang lebih tinggi jika ruang kelas yang seharusnya sedang penuh.

Sebagai penutup, dr. Parlindungan menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius untuk perbaikan sistem triase dan koordinasi dengan pemangku kepentingan.

“Ini akan menjadi perbaikan kita di masa mendatang untuk kami bisa lebih berkoordinasi dengan para stakeholder terkait dan menjalin kerja sama dengan rumah sakit sekitar sehingga kita bisa memberikan pelayanan rujukan yang lebih bagus lagi,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *