Developer Perumahan GRC Berikan Warisan Jalan Rusak Dan Kegelapan Untuk Warga Sekitar

Kabupaten Bekasi – Puncak kekesalan warga Kampung Kosambi dan Kampung Baleker terhadap kondisi jalan utama yang rusak parah akhirnya memuncak.

Jalan yang kini dipenuhi lubang dan hancur lebur tersebut dituding sebagai dampak langsung dari aktivitas kendaraan berat proyek pembangunan perumahan Griya Restu Cikarang (GRC).

Alih-alih menunggu kucuran dana dari Pemerintah Daerah (Pemda), warga secara tegas menuntut tanggung jawab penuh dari pihak pengembang.

Mereka menilai developer wajib memulihkan infrastruktur yang rusak akibat aktivitas proyek mereka sendiri.

Kerusakan Jadi ‘Warisan’ Buruk Proyek. Ketua LSM GBR (Garda Bangsa Reformasi) Kecamatan Kedungwaringin, Lukman, yang juga warga Kampung Baleker, menilai kerusakan jalan ini adalah warisan buruk dari masa pembangunan GRC.

Menurutnya, kendaraan bertonase besar yang hilir mudik selama masa pengurukan telah menghancurkan pondasi jalan.

“Jalan rusak ini sebenarnya warisan dari proyek perumahan GRC terdahulu. Kendaraan berat sering keluar-masuk selama masa pengurukan, dan itulah pemicu utamanya,” ujar Lukman dengan nada geram.

Kritik Perbaikan “Tambal Sulam”
Meski pihak pengembang sempat melakukan perbaikan, warga menilai upaya tersebut hanya sekadar formalitas.

Perbaikan dianggap tidak maksimal karena hanya berupa tambal sulam yang tidak bertahan lama.

“Pihak perumahan memang sudah memperbaiki, tapi hanya tambal sulam ala kadarnya. Harapan saya, jalan yang tadinya beton ya harus dibeton kembali secara permanen. Jangan cuma ditambal, karena seminggu kemudian pasti rusak lagi,” tambah Lukman.

Warga menolak alasan bahwa perbaikan harus menunggu anggaran pemerintah. Menurut mereka, pihak swasta yang telah meraup keuntungan dari proyek tersebut wajib memberikan kompensasi berupa pemulihan infrastruktur.

Lukman juga menyentil para koordinator lapangan (korlap) dan mandor proyek yang dianggap “tutup mata” setelah keuntungan didapat. Ia mendesak Pemerintah Desa Waringinjaya agar lebih proaktif mengawal masalah ini.

“Saya menuntut pengembang dan mandor yang sudah ambil untung untuk tidak diam saja. Giliran ada proyek mereka gesit, tapi saat jalan hancur malah lepas tangan. Perbaiki sendiri, jangan hanya mengandalkan dana Pemda,” tegasnya.

Selain masalah akses, kondisi jalan yang gelap dan rusak mulai memicu aksi kriminalitas.

“Malam hari di lokasi tersebut sudah terjadi aksi pembegalan. Saya harap perbaikan dipercepat dan PJU (Penerangan Jalan Umum) ditambah. Saya tidak mau ada lagi korban begal di kampung saya hanya karena jalan yang rusak dan gelap,” tutup Lukman. (Bis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *