KARAWANG,— Pesisir Pantai Utara, tepatnya di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, kembali menghadapi ancaman pencemaran lingkungan yang serius. Diduga gumpalan minyak mentah (oil spill) pekat yang terbawa arus gelombang laut kini mulai mendarat dan mengepung bibir pantai sejak beberapa hari terakhir.
Peristiwa ini menjadi pukulan telak sekaligus membuka kembali trauma kolektif masyarakat pesisir Karawang. Kasus serupa yang terjadi pada tahun 2019 silam nyaris melumpuhkan perekonomian warga akibat bau menyengat yang menguap tajam di bawah terik matahari.
Ketua Forum Masyarakat Pesisir Karawang, Ahmad Syafi’i, mengonfirmasi bahwa material berbentuk butiran minyak menyerupai aspal tersebut sebetulnya sudah mulai mendarat sejak Minggu (23/8/2026). Namun, volume limbah hitam tersebut terpantau terus bertambah dari hari ke hari.
“Efeknya sangat merusak bagi nelayan. Begitu minyak itu menempel, jaring tangkap mereka langsung rusak. Bahkan dicuci menggunakan deterjen pun nodanya tidak akan bisa hilang,” ujar Syafi’i, Selasa (25/8/2026).
Dampak buruk dari tumpahan limbah ini dirasakan langsung oleh berbagai lapisan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor kelautan. Selain menurunkan volume hasil tangkapan laut secara drastis, para petani tambak rakyat kini dihantui risiko kerugian besar. Mereka khawatir ikan budidaya akan mati massal jika limbah pekat tersebut menyusup ke area empang warga.
Keresahan serupa disuarakan oleh Sakam, salah seorang nelayan lokal di Desa Cemarajaya. Ia menduga kuat bahwa material hitam yang mencemari wilayah tangkapannya merupakan limbah operasional dari aktivitas korporasi migas.
“Itu limbah mirip aspal dari Pertamina. Dampak ke tambak sangat fatal; ikan terabam mati kalau limbah sampai masuk ke empang, apalagi kondisi cuaca sedang panas menyengat seperti ini,” kata Sakam.
Sakam menambahkan, polusi udara dari penguapan limbah tersebut sudah mulai mengganggu aktivitas warga sejak pagi hari. Sambil mengenang masa-masa sulit pasca-tragedi sekitar 7 tahun lalu, ia meluapkan kekhawatirannya akan masa depan ruang hidup mereka.
“Tadi pagi waktu saya mengambil pasir di pantai, baunya sudah sangat menyengat. Dulu, efek kejadian seperti ini membuat kami kesusahan mencari ikan sampai bertahun-tahun hingga penghasilan turun drastis. Sekarang saat kondisi laut baru saja mulai pulih di tahun ketujuh, limbah itu justru datang lagi. Kami hanya bisa berharap dampaknya tidak akan separah dulu,” tuturnya.
Hingga berita ini naik cetak, belum ada pernyataan resmi maupun klarifikasi dari pihak Pertamina maupun PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terkait kepastian sumber ceceran minyak mentah tersebut. Warga dan aktivis lingkungan mendesak adanya investigasi transparan dan tindakan lokalisir limbah yang cepat agar kerusakan ekosistem tidak meluas.
repoerter: (rls)












