Sosialisasi Empat Pilar Jadi Pegangan Santri di Era Digital

Anggota MPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, gelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama santri dan santriwati

Karawang -Anggota MPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama santri dan santriwati di Pondok Pesantren Nurul Bayan, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda pesantren dalam menghadapi tantangan era digital yang kian kompleks.

Sosialisasi tersebut diikuti oleh para santri dan santriwati dengan antusias. Hadir pula pengasuh pondok pesantren, para ustaz dan ustazah, serta tokoh masyarakat setempat. Kegiatan berlangsung dalam suasana edukatif dan dialogis, mencerminkan semangat pesantren sebagai pusat pembentukan akhlak dan karakter generasi bangsa.

Dalam pemaparannya, Cellica menegaskan bahwa Empat Pilar MPR RI, Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, harus menjadi pegangan santri dalam menyikapi perkembangan teknologi dan arus informasi di ruang digital.

Menurut Cellica, kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan serius, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta konten yang berpotensi memecah persatuan bangsa. Oleh karena itu, santri dituntut memiliki sikap kritis dan bijak dalam menggunakan media digital.

“Di era digital ini, santri tidak hanya dituntut cakap dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak dan wawasan kebangsaan yang kuat. Empat Pilar MPR RI menjadi kompas moral dalam menyaring informasi dan bersikap di ruang digital,” ujar Cellica di hadapan para santri.

Cellica menjelaskan bahwa nilai-nilai Pancasila sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan digital, mulai dari etika bermedia sosial, sikap saling menghormati, hingga tanggung jawab dalam menyebarkan informasi. Ia mengajak santri untuk menjadikan media digital sebagai sarana dakwah yang menyejukkan dan memperkuat persatuan.

Selain itu, Cellica menekankan pentingnya semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam pergaulan digital. Menurutnya, perbedaan pendapat di media sosial harus disikapi dengan sikap toleran dan dialog yang santun, bukan dengan provokasi atau permusuhan.

Dalam sesi dialog, para santri menyampaikan berbagai pertanyaan dan pandangan terkait penggunaan media sosial, tantangan menjaga etika digital, serta peran santri dalam menghadapi pengaruh negatif dunia maya. Cellica mendorong santri untuk menjadi teladan dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan persatuan di ruang digital.

Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.

Menutup kegiatan, Cellica berharap santri dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Bayan dapat menjadikan Empat Pilar MPR RI sebagai landasan berpikir dan bersikap, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

“Santri harus hadir sebagai generasi yang berakhlak, cerdas, dan bijak dalam bermedia. Dengan berpegang pada Empat Pilar, santri dapat menjadi penyejuk dan pemersatu bangsa di era digital,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *