Jakarta -Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) tahun ini menjadi momentum penting untuk menyoroti posisi Indonesia dalam upaya global dan regional mengakhiri tuberkulosis (TB). Saat ini, Indonesia tergabung dalam kawasan Western Pacific Regional Office (WPRO) Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) yang mencatat beban TB masih sangat tinggi di kawasan tersebut.
Dikutip dari Prof. Tjandra Yoga Aditama selaku Dewan Penasihat Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bahwa menurut WHO WPRO, diperkirakan terdapat sekitar 2,9 juta kasus TB di kawasan Pasifik Barat. Indonesia, bersama Filipina dan China, termasuk dalam kelompok negara dengan kontribusi terbesar terhadap beban kasus TB global. Selain itu, TB juga masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat penyakit menular di kawasan ini.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia berada pada titik krusial dalam upaya eliminasi TB 2030. Diperlukan langkah yang lebih cepat, terarah, dan berkelanjutan untuk menekan penularan serta meningkatkan keberhasilan pengobatan.
WHO WPRO menekankan tiga pendekatan utama yang perlu diperkuat oleh negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia. Pertama, mendekatkan layanan TB ke masyarakat melalui penguatan fasilitas pelayanan kesehatan primer. Pendekatan ini memungkinkan penemuan kasus lebih dini, pengobatan lebih cepat, serta pencegahan penularan yang lebih efektif.
Kedua, percepatan adopsi teknologi diagnostik molekuler yang direkomendasikan WHO, termasuk pemeriksaan berbasis near-point-of-care (NPOC). Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan kecepatan dan akurasi diagnosis TB, sehingga pasien dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Ketiga, penghapusan stigma terhadap TB serta penguatan layanan yang berpusat pada pasien (people-centred care). Stigma yang masih melekat di masyarakat kerap menjadi penghambat dalam upaya deteksi dini dan keberhasilan pengobatan.
Selain aspek kesehatan, pengendalian TB juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. WHO menyebutkan bahwa setiap investasi sebesar 1 dolar AS dalam program pengendalian TB dapat menghasilkan manfaat hingga 43 dolar AS bagi kesehatan dan perekonomian.
Direktur WHO WPRO menegaskan bahwa eliminasi TB dapat dicapai melalui transformasi sistem pelayanan kesehatan, desentralisasi layanan, serta percepatan implementasi intervensi yang tepat dan berbasis bukti.
Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa upaya mengakhiri TB membutuhkan komitmen kuat, kebijakan yang berpihak pada masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor. Dengan langkah yang lebih cepat dan terintegrasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menurunkan beban TB dan mencapai target eliminasi di masa depan.












