Sampah Impor Bunuh Sungai Pulau Jawa Ancam Kelestarian Ikan Endemik Ikan Air Tawar

0
9

Sungai Indonesia Menjadi Tempat Buangan Limbah Pabrik Daur Ulang Kertas
Dari kebutuhan total sampah kertas untuk bahan baku industry kertas Nasional, 50% atau sekitar 3 juta ton diimpor dari 52 negara dengan 7 negara pengekspor terbesar adalah Italia, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Inggris, Belanda dan New Zealand . 30% impor sampah kertas di olah di Jawa Timur sedangkan porsi terbesarnya (70%) digiling dan di masak di Jawa Barat dan Banten. Sampah kertas yang diimpor tidak semuanya kertas namun lebih dari 20%-30% berupa sampah plastic (Food packaging, Household product, Personal care dan sampah elektronik). Pengotor yang tinggi menghasilkan serpihan plastic dan kertas dari sisa produksi yang bernilai ekonomi rendah dan tidak mungkin untuk didaur ulang yang berakhir dengan di buang secara terbuka (open dumping) atau di bakar. Sampah kertas yang kotor dan mengandung sampah plastic membuat limbah cair dari industry daur ulang sampah kertas ini mengandung mikroplastik yang mengotori Sungai-sungai di Jawa.

Tercatat 3 Sungai Nasional yang terkontaminasi limbah pabrik kertas daur ulang. Sungai Brantas (Jawa Timur), Sungai Citarum (Jawa Barat) dan Sungai Ciujung (Banten). Minimnya pengawasan membuat mikroplastik di ketiga sungai ini telah mengkontaminasi Ikan dan perairan pantai yang mengancam keamanan seafood di Pulau Jawa.

Menteri Perdagangan telah mengeluarkan peraturan baru terkait impor limbah non-B3 untuk keperluan industri. Selain itu, ada SKB tiga Menteri dan Kepolisian RI tahun 2020 yang menetapkan batas contaminant dalam impor limbah non-B3 untuk bahan baku industri sebesar 2%. Pada tahun 2020 ada 21 Negara mengekspor limbah kertas ke Indonesia sebesar mengekspor sekitar 2,66 Juta Ton senilai USD 341.25 Juta (UN Comtrade, 2021). Temuan di lapangan menunjukkan sampah plastic pengotor dalam kertas impor jumlahnya masih tinggi dan menimbulkan timbunan-timbunan sampah sisa produksi (open dumping) yang menggunung.

Pertama PT Indah Kiat Tbk yang berlokasi di Kabupaten Serang, produsen terbesar kertas di Indonesia. Tumpukan sampah plastik ini ternyata telah berlangsung selama 11 tahun dan dioperasikan sebagai TPA open dumping. Warga sekitar TPA diberi akses untuk memulung sampah plastik yang bernilai ekonomis. Sisanya menumpuk di TPA informal ini. Tumpukan sampah plastik open dumping ini selain mencemari tanah, perairan Sungai Ciujung, juga mencemari udara dengan mikroplastik yang meningkatkan risiko kesehatan bagi anak-anak warga yang tinggal di sekitar situ.

Kedua, PT Ekamas Fortuna Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Sampah sisa proses berupa serpihan kertas dan plastik di dumping di rumah-rumah warga untuk dipilah dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembuatan batu gamping.

Ketiga, PT Pindo Deli 3 Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang, yang menimbun sebagian sisa kertas dan plastik di dalam kawasan industri, dan sebagian lagi di luar pabrik.
Padahal mulai Januari 2021 Indonesia telah meratifikasi Basel convention, yang mengharuskan negara pengekspor sampah dengan potensi adanya sampah plastic pengotor harus memberikan notifikasi kepada negara tujuan ekspor agar mau menerima konsekuensinya. Terjadinya tumpukan sampah kertas plastic yang menggunung di PT Indah Kiat Tbk di Serang dan PT Pindo Deli 3 menunjukkan ketidakmampuan Pengimpor dan melanggar UU 18/2008, karena melakukan open dumping sisa scrap plastic, bahkan PT Ekamas Fortuna membiarkan penggunaan sisa scrap plastic untuk di jadikan bahan bakar batu gamping di kecamatan Pagak Kabupaten Malang.

Team investigasi menemukan bahwa pabrik-pabrik kertas di Jawa membuang limbah dalam volume besar dan selalu menimbulkan konflik lingkungn dengan Nelayan, masyarakat pengguna air dan pemerhati lingkungan.
1. PT Indah Kiat Serang. Limbah cair yang dibuang di Ciujung membawa dampak perubahan warna dan matinya ikan di Ciujung
2. PT Tjiwi Kimia Tbk, yang membuang limbah cairnya ke sistem sungai Brantas, pada tahun 2014 limbah cair PT Tjiwi yang dibuang ke kanal mangetan menimbulkan bau minyak tanah pada air sungai, padahal sepanjang sungai menjadi media budidaya keramba apung.
3. PT Ekamas Fortuna, Malang. Membuang limbah diatas bendungan sengguruh. Pada hulu brantas
4. PT Pindo Deli 2 dan 3. Pembuangan limbah menimbulkan warna air anak-anak sungai Citarum berubah menjadi hitam
Keempat industri kertas diatas bernaung dalam bendera Sinarmas Grup.
5. PT Rayon Utama Makmur, Sukoharjo. Pabrik serat tekstil ini membuang limbah suhu tinggi dan menimbulkan aroma sulfur yang mengganggu warga di empat desa, mencemari sawah dan bengawan soli.

Kepunahan Ikan Sungai Pulau Jawa
Selama dua bulan (Maret-April 2021), Ecological observation and wetlands conservation – Ecoton berkolaborasi dengan komunitas Forkadas C (forum Komunitas daerah aliran sungai Citarum), Ciujung Institut dan Ciliwung Institut melakukan investigasi di Sungai-sungai Pulau Jawa dengan kegiatan inventarisasi keanekaragaman jenis ikan dan sumber-sumber pencemaran di Kali Surabaya, sungai Brantas, bengawan solo, Citarum dan Ciujung. Hasilnya menunjukkan sungai-sungai penting di Pulau Jawa yang termasuk dalam sungai Nasional kondisinya sedang sakit. “Sungai-sungai berstatus sungai Nasional seperti Brantas, Bengawan Solo, Citarum dan Ciujung menjadi tempat buangan limbah pabrik tekstil dan pabrik kertas, buangan limbah cair dari industri kertas yang tidak diolah dengan sempurna memerlukan proses dekomposisi dalam ekosistem sungai menyebabkan timbulnya substrat hitam yang berbau dan beracun,”Ungkap Andreas Agus Kristanto chief of Field Reseacher National River Ecoton, lebih lanjut Peneliti ikan ini menjelaskan bahwa substrat hitam yang mengendap didasar sungai menyebabkan turunnya kadar Oksigen terlarut dalam air, menghasilkan material toksik dan rusaknya habitat ikan. “Dalam proses reproduksinya, ikan membutuhkan permukaan dasar sungai yang kasar, berbatu atau kerikil, untuk menempelnya telur ikan namun substrat limbah cair pabrik kertas menutupi dasar sungai sehingga membuat dasar sungai menjadi licin karena munculnya lapisan film yang beracun menyebabkan telur ikan tidak bisa bertahan, mati dan hanyut,” jelas Andreas Agus kristanto.
“Limbah cair industri cukup signifikan menimbulkan penurunan spesies ikan di sungai-sungai Pulau Jawa karena merusak rantai makanan di sungai, satu rantai makanan hilang maka secara sistemik akan menggangu keutuhan ekosistem, awalnya merusak detritus kemudian benthos akan habis karena habitatnya ada didasar sungai, detritus dan benthos adalah sumber pangan ikan, hilangnya detritus dan benthos akibat limbah cair industri pada gilirannya akan memusnaka ikan air tawar yang hidup di sungai-sungai Pulau Jawa” Ungkap Veryl Hasan fakultas perikanan dan kelautan Universitas Airlangga
“ Limbah cair secara bertahap mempengarhi hormone ikan, limbahnya kimia membuat genetical block yang memblokir sintesa protein terbentuknya kelamin jantan sehingga ikan di sungai dominan ikan betina, harusnya 50%:50% komposisi ikan jantan, namun kondisi saat ini 80% ikan berkelamin betina 10% jantan,” Ungkap Veryl Hasan, lebih lanjut Peneliti Unair ini menjelaskan ketidakseimbangan kompisisi kelamin ikan menyebabkan penurunan populasi dan toksitisitas limbah menyebabkan kematian ikan secara massal. Disungai Brantas spesies ikan yang ditemukan menurun dari 60 spesies yang teridentifikasi pada 1990 kini menyisakan 25 spesies, Di Bengawan Solo jumlah spesies ikan yang hilang mencapai 20 Jenis dan menyisakan kurang dari 10 spesies. Yang lebih memprihatinkan penurunan jumlah spesies adalah Sungai Citarum
Citarum yg punah:
1. Bagarius lica dari keluarga Baung,
2. Chitala lopis – Belida,
3. Lobocheilos lehat – keluarga ikan Lais. ini yg punah lebih dari 50 tahun lalu
Citarum yg punah 10 tahun terakhir:
1. Laides hexanema keluarga Patin Sungai
2. Helostoma temnickii – Ikan Tambakan / Gurami Pencium
3. Rhyacichthys aspro,
4. Pseudolais micronemus – keluarga Patin Sungai
5. Pangasius macronema – Keluarga Patin Sungai
6. Acrochordonichthys ischnosoma – Joko Repo
7. Acrochordonichthys rugosus,
Bengawan Solo
1. punah 50 tahun lalu ada satu aja: Bagarius lica dari keluarga Baung
2. punah 10 tahun terakhir:
Macrochirichthys macrochirus,
Pangasius macronemus- Jambal dari keluarga Patin Sungai,
Luciosoma setigerum Ikan Bala,
Homalopteroides wassinkii
Pemerintah Gagal Kelola Sungai
Rusaknya sungai-sungai di Jawa dikarenakan pemerintah tidak menprioritaskan pengendalian pencemaran air. ” Pengawasan pembuangan limbah cair industri tidak dilakukan dengan serius, sehingga industri tetap saja membuang limbah dengan pengolahan ala kadarnya” Ungkap Daru Setyorini, peneliti pencemaran sungai Ecoton.

Beberapa temuan lapangan pelanggaran pembuangan limbah cair :
1. Industri memiliki saluran siluman pembuangan limbah cair yang sulit untuk diakses sehingga menghambat upaya pemantauan, ditemukan kecenderungan industri membuang limbah Tidak diolah pada malam hingga dini hari.
2. Pemerintah mudah mengeluarkan ijin pembuangan limbah cair tanpa mempertimbangkan daya dukung beban pencemaran sungai
3. Lemahnya pengawasan pembuangan limbah cair oleh pemerintah mendorong industri membuang limbah tanpa diolah
4.tidak ada sanksi yang tegas terhadap pelaku pembuang limbah cair yang merusak ekosistem sungai, sehingga perbuatan melawan hukum yang mengatasnamakan kestabilan ekonomi terus terjadi dan menurunkan kualitas lingkungan Daerah Aliran Sungai di Pulau Jawa
5. Ketidak jelasan kewenangan pengendalian pencemaran, penegakan hukum bagi pelaku pencemaran dan upaya pemulihan kualitas air antara 5 institusi Jogo Kali yaitu Balai Besar Wilayah Sungai/kementerian Pekerjaan umum dan perumahan rakyat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perum Jasa Tirta, Gubernur dan Walikota/Bupati.

Faktanya jika terjadi pencemaran masih ada saling lempar tanggungjawab
Ecoton mendorong dibuatnya Peraturan Presiden tentang Pengendalian pencemaran dan Pemulihan kualitas Sungai Brantas, Bengawan Solo dan Ciujung karena 5 institusi Jogo Kali di Pulau Jawa telah gagal melakukan tugas sehingga terjadi kualitas air sungai nasional di Pulau Jawa Terus merosot yang mengakibatkan punahnya beragam jenis ikan dan meningkatkan beban PDAM pengguna air sungai sebagai bahan baku air minum.

Azis SH – Koordinator Ekspedisi 3 Sungai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here