Karawang, 18/3/21:* Penyebab utama meluapnya kali Cikapala karena alih fungsi lahan dan perambahan hutan secara besar besaran di wilayah hulu, ditambah beberapa ekses lain di daerah hilir, seperti penyempitan serta pendangkalan sungai.

“Saya dan kawan-kawan punya data falid, bahwa alih fungsi lahan dan perambahan hutan secara besar besaran di wilayah hulu menjadi faktor pemicu utama banjir. Padahal area tersebut merupakan wilayah resepan pembangunan yang dikelola tanpa memikirkan dampak lingkungan, eperti beban DAS dan Sub DAS dimana sudah tidak mampu menampung air larian, selain faktor penyebab banjir lainnya,” urai Aktivis Lingkungan Hidup Kabupaten Karawang, Erik Ramdani, di Karawang, Kamis (18/3/21).

Dia melanjutkan, musibah banjir tiap tahun terjadi tanpa solusi di Kabupaten Karawang, telah mengakibatkan beberapa kecamatan terendam banjir. Hal ini disebabkan tata kelola lingkungan yang sangat buruk dalam antispasi dan penanganannya.

“Janhan juga kita ‘ucuk-ucuk’ mengkambinghitamkan adanya kawasan-kawasan industri di sekitar kali. Kawasan-kawasan di hilir termasuk kawasan industri, bukan wilayah resapan, tapi daerah penahan air. Yang harus dibereskan paling utama, di hulu,” tandasnya.

Ketidaksiapan Hadapi Banjir

Aktivis lingkungan hidup yang juga Presidium Masyarakat Karawang Bersatu (MLB) ini mengatakan, ada beberapa faktor penyebab banjir yang merendam wilayah Kabupaten Karawang di tahun 2021 dan tahun-tahun sebelumnya.

“Ya, salah satunya yang sangat penting, yaitu ketidak-siapan Pemerintah Kabupaten Karawang dalam menghadapi bencana banjir. Ketidak-siapan ini bisa terlihat di beberapa titik wilayah yang terkena dampak,” ungkapnya.

 

Ia lalu menunjuk inimnya Pemerintah Daerah (Pemda) mempersiapkan alat dalam sistem peringatan dini atau _early warning system_ (EWS) banjir dan longsor untuk mendukung kesiap-siagaan menghadapi bencana, khususnya aliran Kali Cikapala.

Erik dan kawan-kawan sudah lama mengkaji, penyebab banjir di Karawang, yakni salah satu anak sungai dari Citarum, yaitu kali Cikapala yang berlokasi di desa Wadas, kecamatan Telukjambe Barat. Saat ini, kawasan itu menjadi perhatian pemerintah daerah sebab setiap kali hujan selalu meluap, bukan baru karena adanya imvestasi baru di sekitarnya, tapi sudah lama berulang begitu.

*Perambahan hutan besar-besaran*

Sekali lagi Erik dkk perlu kemukakan, meluapnya kali Cikapala disebabkan alih fungsi lahan dan perambahan hutan secara besar besaran di hulu, dimana wilayah tersebut sebagai faerah resepan.

Sayangnya, terjadi proses pengubahan kawasan tanpa memikirkan dampak lingkungan dan beban DAS maupun Sub DAS yang sudah tidak mampu menampung air larian, selain faktor penyebab banjir di atas.

Dikatakan, penyebab bencana banjir pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi dua. Yaitu, tingginya pasokan air banjir dari daerah hulu, dan tidak memadainya saluran drainase daerah hilir.

 

Untuk itu, menurut mereka, penanganan banjir harus komprehensif, baik di hulu maupun hilir.

“Di daerah hilir, memperbaiki saluran drainase memang diperlukan untuk mengalirkan air dengan lancar. Namun penanganan daerah hulu sebenarnya lebih efektif, yaitu meningkatkan peresapan air agar bisa menahan air selama mungkin di hulu,” demikian Erik Ramdani didampingi salah satu rekan sesama aktivis limgkungam hidup dari MKB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here