Apa Penyebab Bencana Ekologis Melanda Indonesia?

0
10

Oleh Bagong Suyoto:Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) Dewan Pembina KAWALI Indonesia Lestari

Pernyataan berikut harus disimak dan dicerna secara dalam dan jernih. “The environment is not something “out there”. We eat the environment. We drink the environment. We breathe the environment. We are part of the environment, and it is a part of us. We cannot destroy the environment without destroying ourselves” (Denis Hayes 2002; 127).

Denis Hayes bilang, kita minum dari lingkungan. Kita bernafas dari lingkungan. Kita bagian dari lingkungan. Kita tidak merusak lingkungan tanpa merusak diri kita sendiri. Pendeknya, kalau kita merusak lingkungan sama saja merusak diri kita sendiri karena kita bagian dari lingkungan.

Akhir 2020 dan awal 2021 Indonesia dilanda pandemic Covid-19, hingga kini kasusnya terus meningkat. Kasus pandemic Covid-19 berdampak terhadap multi-dimensi, yakni sosial, keagamaan, ekonomi dan perdagangan, industry, kesehatan, lingkungan, politik dan kebijakan. Seluruh dunia sedang dirudung malapetaka pandemic Covid-19. Jutaan orang mati akibat serangan Covid-19, kasus kematian yang terbesar dialami penduduk Amerika Serikat.

Selain itu sejumlah belahan dunia dilanda berbagai bencana alam atau bencana ekologis. Bencana ekologis bisa disebabkan oleh kerasukan dan ketamakan manusia yang tak terkendali. Mereka orang-orang hebat dengan kekayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan mengeksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Mereka semakin perkasa sebab didukung oleh kekuasaan. Kedua kepentingan itu bersatu padu memperjuangkan kepentingan dengan motif ekonomi. Inilah yang dinamakan oligarkhi.

Usaha bisnis mereka sebagian mencemari dan merusak lingkungan hidup. Hal itu bisa disebabkan oleh perubahan alih fungsi lahan secara massif. Hutan-hutan digunduli (deforestrasi), dibakar tanpa ampun. Hutan tropis penuh keanekaragaman hayati dirubah secara cepat dengan bantuan teknologi canggih. Kemudian menerapkan model monokulturisasi, seperti perkebunan kelapa sawit, karet dan lain. Hutan tropis sebagai paru-paru dunia dihancurkan tanpa pikir panjang. Daerah-daerah resapan air dihancurkan pula. Sungai-sungai dipersempit, belum lagi adanya sedimentasi.

Para pemilik modal dan corporate bicara mengenai penguasaan dan kepemilikan lahan sebagai hutan produksi. Jumlah mereka hanya beberapa gelintir menguasai jutaan hektar lahan di Indonesia. Meskipun usaha komersial itu mendapat tantangan dari masyarakat adat/lokal. Timbullah konflik agrarian dan disparitas. Rakyat tidak mampu melawan kekuatan sangat besar ini, akibatnya tersingkir dan lainnya dikriminalisasi, bahkan ada yang dikirim ke penjara. Petani dan masyarakat adat hanya jadi penonton di lahannya sendiri, dan ketika terjadi bencana ekologis, merekalah yang menjadi korban.

Dalam situasi pandemic Covid-19, tambah lagi bencana, bencana dan bencana alam terjadi di sejumlah di Indonesia. Penanganan pesawat jatuh di perairan Kepulauan Seribu belum usai. Cucuran air mata duka masih menetes. Becana banjir dan tanah longsor terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dll. Kemudian disusul bencana gempa bumi melanda Sulawesi Barat dan banjir bandang di Kalimantan Selatan. Semua itu memakan korban nyawa dan harta benda sangat besar.

Kasus banjir bandang Kalimantan Selatan, mungkin menyusul daerah lain, maka perlu adanya kajian ilmiah mengenai penyebab atau akar masalahnya. Boleh jadi, curah hujan tinggi yang merupakan salah satu penyebabnya, seperti dikatakan Presiden Jokowi. Sungai Barito tidak menyempit atau tidak bermasalah, satu argumentasi lain. Sejumlah faktor terjadinya banjir di Kalimantan Selatan harus diungkap secara ilmiah, bisa menggunakan metode time-series. Para tokoh, orang-orang lokal/adat, aktivis lingkungan dan para pakar dari berbagai disiplin harus memberikan testimoni secara jujur.

Kita membutuhkan data/informasi yang akurat dan valid untuk memberi solusi banjir Kalimantan Selatan, juga daerah-daerah lain di Indonesia. Ini menjadi pijakan pengambilan kebijakan, pengambilan keputusan dan penyusunan perencanaan pembangunan pro lingkungan dan pro rakyat. Sayangnya, data/informasi akurat dan valid ini susah didapatkan atau disampaikan ke publik.

Ada alasan sangat kuat, karena berhadapan dengan kekuatan sangat besar dari kalangan corporate dan pemerintah. Pemilik bisnis perkebunan besar, kehutanan, pertambangan dan sektor modern lain adalah mereka yang punya hubungan sangat spesialis dengan kekuasaan tingkat tinggi di republik ini. Pemilik usaha-usaha di daerah itu adalah orang-orang kuat dan berkuasa di ibukota negara. Sebetulnya, mereka itu seperti penguasa “shadow state”, tidak menduduki struktur formal, namun sebagai penentu permainan.

Dalam buku Jakarta Dalam Bingkai Bencana Ekologis (2007) mencatat, bencana ekologis silih berganti menghempaskan bumi pertiwi. Bencana itu sebagian besar bersumber dari ulah manusia yang serakah dan kebijakan yang abai terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Greenpeace mencatat aksi kerakusan manusia itu. Indonesia tercatat di Guiness Book of Records sebagai negara dengan laju kecepatan kerusakan hutan (deforestrasi) tertinggi, mencapai 2 juta hektar per tahun. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan 72% hutan aslinya. Bahwa 1 rim kertas HVS yang kamu gunakan sama dengan satu pohon berumur 5 tahun. Indonesia merupakan pemilik hutan gambut tropis terluas di dunia. Ini data tahun 2007, sekarang 2021 sudah terjadi penambahan cukup besar.

Orang Rimba di TN Bukit Dua Belas Provinsi Jambi, mulai kehilangan hutan dan sumber daya penghidupan mereka karena bermunculan HTI (Hutan Tanaman Industri) dan HPH (Hak Penguasahaan Hutan di wilayah tersebut. Provinsi NAD melalui Instruksi Gubernur-nya menetapkan pemberlakukan Jeda Tebang diseluruh wilayah NAD, untuk masa 15-20 tahun. Setiap menitnya, hutan Indonesia seluas 7,2 hektar musnah akibat destructive logging (penebangan yang merusak). Hutan Indonesia merupakan tempat dimana hubungan equilibrium antara 46 juta penduduk dengan alam sekitar tercipta. Dengan 1,3 dari luas seluruh daratan dunia, memiliki kekayaan wildlife kedua terkaya di dunia.

Bencana ekologis bersumber dari kerusakan lingkungan hidup yang tak terkendali. Prof. Emil Salim dalam Bagong Suyoto (2007) menulis, dari Stockholm, pecah berita bahwa Al Gore dan International Panel on Climate Change (IPCC) terpilih menjadi peraih Nobel Perdamaian 2007. Al Gore dikenal sebagai tokoh yang berhasil membangkitkan opini publik dunia untuk bangkit berusaha menanggapi tantangan perubahan iklim dan melawan anggapan banyak pihak, termasuk Pemerintah Amerika Serikat, yang sangsi bahwa perubahan iklim disebabkan oleh perbuatan manusia. Mereka ini mengacu pada pendapat bahwa perkembangan lingkungan alamlah yang tertutama pada perubahan iklim.

Bagong Suyoto (2007) mengutip Al Gore dengan buku, ceramah, dan terutama tayangan film dokumenternya berjudul “An Incovenient Truth” membentangkan secara dramatis dampak ulah manusia pada perubahan iklim sejagat. Film dokumentasi ini memperoleh pengharagaan Academy Award 2007. Pemikiran Al Gl Gore (2006) bisa dipelajari lewat buku Earth in the Balance Ecology and the Human Spirit.

Pemasanan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Pemanasan global akan diikuti dengan perubahan iklim, yaitu meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir erosi. Sedang di bumi lain akan mengalami musim panas berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu. Seperti dikutip Bagong Suyoto dalam buku “Rumah Tangga Peduli Lingkungan Hirup” (2008), bahwa dampak dari perubahan iklim sebagai berikut.

(1) Pada 2100, temperatur atmosfer diperkirakan akan meningkat 1,5-4,5 derajat celsius jika pendekatan yang digunakan ”melihat dan menunggu”, tanpa melakukan apa-apa”. Perubahan iklim di Indonesia, diantaranya terjadi kenaikan temperatur sebesar 0,03ºC/tahun dan kenaikan curah hujan sebesar 2 hingga 3 persen per tahun (Hulme dan Sherad, 1999). (2) Musnahnya berbagai keanekaragaman hayati. (3) Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir. Di Indonesia siklus ENSO (El Nino Southern Oscillation) biasanya terjadi 3 hingga 7 tahun sekali, sekarang menjadi 2 hingga 5 tahun sekali (Ratag, 2001). (4) Mencairnya es dan glasier di kutub. (5) Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir meluas. Pada 2100 diperkirakan air laut naik hingga 15-95 cm. (6) Kenaikan suhu air laut membuat coral bleaching dan kerusakan terumbu karenga di seluruh dunia. (7) Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan. (8) Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk). (9) Daerah-daerah tertentu menjadi padat karena terjadi arus pengungsian.

Meningkatnya jumlah emisi GRK di atmosfer disebabkan oleh kegiatan manusia di berbagai sektor seperti energi, kehutanan, pertanian, peternakan serta sampah. Bahan bakar fosil, seperti penggunaan kendaraan bermotor dan kegiatan industri (Newby, 2007). Sedangkan menurut Porteus (1992) gas rumah kaca adalah gas yang mempunyai pengaruh pada efek rumah kaca, seperti CFC, CO2, CH4, NOx, O3 dan H2O. Beberapa komponen dari gas rumah kaca dapat merusak satu sama lain, seperti molekul metana mempunyai 20-30 kali lebih kuat dari CO2 dan CFC diperkirakan 1000 kali lebih kuat dibanding CO2.

Selanjutnya, Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengenai Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change – UNFCCC), ada 6 jenis gas yang digolongkan sebagai GRK, yaitu: karbondioksida (CO2); fosil di sektor energi, transportasi dan industri dinitro oksida (N2O); metana (CH4); sulfurheksaflorida (SF6); perflorokarbon (PFCs); hidro florokarbon (HFCs). Sedangkan dalam IPCC radiative forcing report, climate change 1995, bahwa penyumbang GRK yang utama adalah arbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), CFCs, HCFCs, Perfluorocarbon, Sulphur hexa-fluoride.

Dalam konteks ini, limbah/sampah mempunyai kontribusi besar untuk emisi gas rumah kaca, yaitu: gas metana (CH4), diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 Kg gas metana. Dengan jumlah penduduk terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan 500 juta/hari atau 190 ribu ton/tahun. Artinya Indonesia mengemisi gas metana ke atmosfer sebesar 9.500 ton. (Anggita DR, KLH, 2007). Gas metana merupakan gas terbentuk dari proses dekomposisi anaerob sampah organik, juga sebagai salah satu penyumbang gas rumah kaca, yang mempunyai efek 20-30 kali lipat ketimbang gas CO2. Setiap 1 Kg sampah dapat memproduksi 0.5 m³ gas metana, maka kontribusinya terhadap efek pemasanan global sebesar 15%.

Oleh karena itu sebaiknya kita perpikir dan bertindak lebih arif dan bijaksana, yakni mengendalikan atau mengontrol laju pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia, terutama sektor-sektor yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Rawatlah bumi ini dengan tanganmu sendiri. Di mana kita berbijak, kita harus berbuat untuk menyelamatan hidup kita selagi masih ada kesempatan. Semasa kita sehat, semasa kita berkuasa, semasa kita memiliki kekayaan yang diperoleh dengan jalan yang baik, selamatlah bumi yang telah memberi kita hidup hingga sekarang. Inilah jalan yang terbaik bagi kita!* 21/1/2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here