Argibisnis Melon Emas Primadona Desa Muara

0
22

Karawang-Argibisni melon emas yang sedang di garap Pemerintah Desa Muara, di Kecamatan Cilamaya Wetan saat Ini menjadi primadona yang di kelola BUMDes Karya Jaya Desa Muara,

Berdiri di atas lahan 750 meter persegi di belakang kantor desa. Setiap kali panen, BUMDes Karya Jaya bisa memproduksi lebih dari 2 ton melon emas, yang di pasok ke pasar buah di Karawang. Mau pun di luar Karawang.

Kepala Desa Muara, Iyos Rosita mengatakan sebelum sukses mengelola Argibinis Kebun Melon Emas. BUMDes Karya Jaya selalu mengalami pasang surut kegagalan.

Badan usaha milik desa terjun diberbagai bidang olahan laut. Hingga, mencoba berbagai usaha barang dan jasa. Namun, itu sulit berkembang sebagaimana yang dialami BUMDes lain di desa-desa tetangga.

Namun, hasil kajian Pemdes Muara beserta pengurus BUMDes Karya Jaya. Menyimpulkan, jika investasi bidang usaha jangka panjang yang bisa digarap BUMDes adalah sektor wisata pertanian

“Dari buah pemikiran itu, kemudian dibuatlah perkebunan di samping kantor desa. Awalnya gagal dulu, kebunnya kena banjir. Tapi kita banyak belajar dari kesalahan, sampai jadi seperti sekarang,” .

Iyos menceritakan, menanam buah melon bukan perkara mudah. Apa lagi, harus dilakukan di wilayah pesisir, yang notabene bukan habitat hidup tumbuhan seperti pohon melon.

Namun, berkat inovasi dan sedikit racikan karya anggota BUMDes Karya Jaya. Mereka berhasil menemukan formula yang pas. Untuk membuat melon emas itu tumbuh subur di tanah Desa Muara yang dekat dengan laut.

“Kebetulan salah satu anggota BUMDes kami sarjana pertanian. Bibit melon itu juga kita dapat dari jaringannya yang ada di luar kota,” ujarnya.

Tak lama setelah sukses melakukan panen melon. Seketika BUMDes Karya Jaya viral di jagat maya. Bahkan, Iyos mengaku, belum ingin membuka argowisata secepat itu. Namun, antusias warga Karawang yang ingin berkunjung ke Kebun Melon Emas sudah tak bisa di bendung.

“Ya karena viral jadi kita buka lebih awal. Harusnya nanti, saya mau pembuktian dulu. Karena target awalnya adalah memenuhi permintaan pasar,” jelasnya.

“Untuk melon jenis Erna-Erni sendiri harganya dibanderol 15 sampai 18 ribu rupiah per kilogram. Untuk Melon Golden lebih mahal sedikit,” imbuhnya.

Kades yang pernah mengajar di salah satu MTs di Karawang itu menyebut, akibat viral di dunia maya, dalam sehari, tak kurang dari 700 buah melon ludes terjual. Bahkan, tak sedikit warga yang harus tertunduk lesu dan berputar arah. Karena kehabisan stok melon yang matang di kebun.

“Nilai edukasinya untuk anak-anak ada. Orang tua bisa berwisata sambil mengajarkan anak berkebun. Bahkan, mereka juga diperbolehkan memetik melonnya sendiri,” kata Iyos.

Masih kata Iyos, pihaknya tak mau jumawa dengan keadaan ini. Meskipun saat ini semua mata tertuju pada Desa Muara. Namun, pihaknya mengaku akan tetap fokus pengembangan inovasi. Serta menggali potensi lain di Desa Muara. Agar Argibinis kebun melon emas di Desa Muara tidak cuma tenar sementara. Seperti objek wisata lain yang pernah viral di Kabupaten Karawang.

“Yang jelas jangka pendek kita memenuhi target pasar, kemudian kita garap perluasan dan berinovasi, baru kalau sudah siap betul kita buka Argibisnis kebun melon yang bagus,” ujarnya.

Iyos berharap, argowisata ini bisa mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes). Agar ke depan, Desa Muara bisa jadi desa yang mandiri.

“Semua kades juga ingin BUMDes nya maju dan berkembang. Supaya kita bisa jadi desa yang mandiri,” pungkasnya.

Pendamping Desa Kecamatan Cilamaya Wetan, Syukron menjelaskan, ke depan, desa-desa di sepanjang pesisir pantai di Kecamatan Cilamaya Wetan akan memiliki daya pikatnya masing-masing.

Sebelumnya, kata Syukron, ada Desa Sukakerta yang sukses menggarap Wisata Mangrove Tangkolak. Kemudian, Desa Muarabaru, dengan berbagai hasil olahan laut siap eksport. Dan saat ini, di susul Desa Muara dengan argowisatanya.

“Kita semakin dekat dengan cita-cita Cilamaya. Yaitu, menjadi peradaban pesisir yang modern,” ucapnya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here