Anak-anak DAN Milenial Biar Bicara Bahaya Limbah MEDIS COVID-19

0

Oleh Bagong Suyoto Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) dan KAWALI Indonesia Lestari

Belakangan ini kerumunan massa demi kerumunan massa di tengah pademi Covid-19 tak bisa dihindari di ibukota dan wilayah Jabodetabek, seperti demontrasi buruh, demontrasi mahasiswa, demontrasi aktivis lingkungan. Juga kumpulan massa atau jamaah dalam kegiatan agama. Karena suatu vested interest tertentu, seperti ajang show of force dan menunjukkan kehebatan sosok pongah para pemimpin baik politik, sosial dan keagamaan. Pemimpin formal dan non-formal. Unjungnya kegaduhan dan keributan.

Juga terjadi pada kampanye dan berbagai aktivitas perhelatan Pilkada. Apa pun alasannya, tetap saja intinya, kerumunan massa. Unjungnya hujat menghujat, konflik terbuka antar berbagai kelompok kepentingan. Semua tetap mencari pembenaran inter-subyektif. Mestinya malu dan introspeksi.

Kerumunan massa ini ditiru orang-orang di sejumlah tempat, termasuk hajatan/kriyaan dengan hiburan orgen tunggal, dangdut atau pongdut di kampung-kampung dengan cara sembunyi-sembunyi. Mereka bilang hajatan dengan Protokol Kesehatan WHO. Hajatan paling antik di abad ini. Tetapi tamu undangan tetap banyak, sebagian besar tak pakai masker. Terus bagaimana harus jaga jarak 1,5-2 meter? Mereka pun bersentuhan tangan.

Peraturan perundangan dan pemerintah secara tegas melarang adanya kegiatan keramaian yang menyebabkan kumpulan massa atau kerumanan massa di tengah pandemic Covid-19. Karena akan menimbulkan klaster baru, tambahan kasus Covid-19. Ada yang peduli, lainnya masa bodoh.

Dampak dari kerumunan massa itu secara langsung menambah timbulan sampah. Dan penambahan kasus terinfeksi Covid-19 berarti menambah volume timbulan limbah medis. Semua itu menambah beban kotoran dan penyakit.

Apakah mereka tak sadar bahwa sampah dan limbah infeksisus terus bertambah, demikian itu ancamannya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat? Otoritas pengelola sampah semakin pusing karena gunung-gunung sampah semakin banyak, sebab hanya tumpuk saja sebagai bentuk pembuangan terbuka (open dumping). Sekarang dipusingkan dengan bertambahnya limbah medis beberapa kali lipat. Jakarta mengalami pertambahan limbah media 4 sampai 5 kali lipat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan, pertambahan limbah medis 30-50%, sekarang bisa mencapai 300 ton/hari.

Kalangan aktivis lingkungan, jurnalis, pakar medis, dll sangat khawatir dengan bertambahnya limbah infeksius, yang sebagian dibuang sembarangan, seperti pekarangan kosong, drainase, DAS, badan sungai dan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Limbah infeksius masuk kategori limbah berbahaya dan beracun (B3) tidak boleh dibuang sembarangan. Limbah infeksius harus diolah secara profesional oleh perusahaan berlisensi dari pemerintah. Nanun, jumlahnya terbatas.

Basic pengelolaan limbah infeksius berpijak pada UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah No. 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah B3 dan peraturan terkait. Sehingga semua harus taat. Sayangnya, masih banyak yang nyeplos akibat pengawasan dan penegakan hukum lemah.

Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat, diwakili KLHK, Kemenkes, Kemendagri, Kapolri, Satgas Nasional Covid-19, dll. Para petinggi negara mengeluarkan surat edaran, instruksi kepada Gubernur dan Bupati/Walikota se-Indonesia agar melakukan pengawasan dan penertiban pengelolaan limbah medias. Juga Kapolri memerintahkan jajarannya ikut mengawasi pengelolaan limbah medis tersebut.

Kalangan aktivis lingkungan, jurnalis, pakar medis, dll membuktikan sendiri hingga saat ini masih ditemukan limbah di sejumlah tempat, termasuk TPA sampah. Mereka mengobervasi dan investigasi guna memperoleh bukti-bukti ilmiah (obyektif, factual dan valid). Bahkan, mereka melakukan interview dengan sejumlah key-persons, terutama para pelaku. Untuk menggali bukti-bukti tersebut perlu waktu berhari-hari, seminggu, dua minggu. Sifatnya semacam riset aksi (action research), dikenal dalam metodologi advokasi. Tetapi mendapat data/informasi yang lengkap sangat sulit, bahkan terjadi perlawan dari para pengepul usaha limbah medis. Biasanya para pengepul tersebut tidak punya ijin resmi dari pemerintah.

Seperti kasus penemuan limbah medis di TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi merupakan bukti sangat kuat. Hingga saat ini (03/12/2020) pembuangan dan dumping limbah medis yang lebih besar berada di sekitar TPST Bantargebang. Juga limbah medis masih ditemukan di TPA Sumurbatu Kota Bekasi. Beberapa pemulung mengakui, menemukan dan memungut limbah medis tersebut.

Selanjutnya mendokumentasi dalam bentuk laporan tertulis dan visual. Pembuktian merupakan bentuk keingin-tahuan serius dan untuk memperkuat kuat fakta-fakta saintifik dan hukum. Mereka butuh data/infromasi lapangan yang akurat dan valid guna menghindari asumsi absurd. Keseriusan itu menunjukkan integritas dan tanggung jawab besar terhadap kelangsungan lingkungan hidup dan generasi mendatang.

Mereka menemukan berbagai jenis limbah medis, diantaranya masker, sarung tangan, baju hazmat (hazardous material suit), bekas kemasan obat, botol, selang infus yang masih ada jarumnya. Bahkan pada selang infus masih ada darahnya. Material infeksius sangat berbahaya, seperti jarum infus/jarum suntik jika mengenai tubuh bisa titanus. Yang dikhawatirkan ada virus penyakit menular yang tak kasat mata.

Kita ketahui, yang diperbolehkan dibuang ke TPA hanya sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Ketentuan itu sudah jelas dimuat dalam UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Pemerintah No. 81/2012 dan peraturan terkait. Faktanya, semua sampah dibuang ke TPA, termasuk sampah dari industri/pabrik dan limbah medis. Semua sampah jadi satu bercampur-baur sangat complicated.

Sungguh tak ada manfaatnnya membuat tong-tong pilah sampah bila tak diikuti aktivitas pengolahan dan reduksi. Pekerjaan kita baru sampai tahapan proyek membuat tong pilah sampah?! Sementara truk pengangkut sampah masih menerapkan metode manajemen transportasi konvensional. Semua jenis sampah dimasukkan ke dalam satu truk, terus dibawa ke TPA. Merupakan cermin dari mindset dan indikasi tindakan paradigma lama. Belum ada perubahan!? Kita sulit keluar dari belunggu hantu belang jeratan sampah dan limbah B3. Kini sejumlah metropolitan, kota besar, bahkan kota kecil menuju darurat sampah, sebab pengolahan sampah hanya bertumpu pada TPA.

Kaum milenial dan anak-anak harus tahu mengenai bahaya limbah medis jika dibuang sembarangan. Meskipun tidak mudah memberi pemahaman, infromasi guna membangun kesadaran kaum muda milenial. Mereka jumlahnya jutaan di tanah air dan merupakan suatu kekuatan besar. Mereka sudah melek teknologi informasi (IT) dan punya jaringan sosial media (Sosmed).

Mereka tak begitu percaya bila hanya diberi informasi seputar bahaya limbah infeksius itu. Tapi harus ada bukti faktual, ada korban dan ada testimoni. Testimoni korban yang harus menyentuh hati sanubari, merupakan fakta senyataannya, tidak dibuat-buat secara bombastis.

Persoalan dan dampak limbah medis dan pencemaran lingkungan harus diketahui anak-anak. Anak-anak yang memiliki masa depan lebih panjang harus diberi ruang agar merespon dan ikut menjawab permasalahan tersebut. Urusan lingkungan dan kesehatan juga menjadi urusan anak-anak, bukan hanya orang tua saja. Mereka bagian dari kelangsungan dan kekuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masa depan dunia penuh tantangan dan persaingan global lebih modern dan canggih bagian dari post industry society, namun semua bertumpu pada kelestarian lingkungan dan penghargaan hak azasi manusia (HAM). Dan hampir semua negara maju menjual branding “Clean and Green”, seperti Singapore, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara OECD/Uni Eropa. Kaum milenial, anak-anak Indonesia harus akif ikut serta menyuarakan “Clean and Green”. Sekarang terpenting berpartisipasi menyuarakan: “Stop Buang Limbah Medis Sembarangan!” * 03/12/2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here