Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) Berikan Bantuan Sembako Untuk Peringan  di Massa Covid 19

0

Jakarta, 17 Juni 2020 –Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dan PT. Fajar Surya Wisesa Tbk menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR) “Bantuan Untuk Penanganan Covid-19”, berupa Sembako kepada pemulung, buruh sektor persampahan dan warga sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu, Kota Bekasi. Bantuan Sembako sebanyak 500 paket diserahkan langsung oleh Lim Chong Thian Vice Presiden PT. Fajar Surya Wisesa, Tbk kepada Bagong Suyoto Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) di Bantargebang, 12 Juni 2020.

Dalam rangka penanganan Covid-19, juga menyerahkan sebanyak 10 unit hand wash (alat cuci tangan). Hand wash akan di tempatkan di sejumlah titik, yakni pemukiman warga dan pemulung serta sekolah (seperti Sekolah TK/PAUD Pelangi Semesta Alam, TK/PAUD dan MTs Al-Muhajirin, dll) di sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu.

Setiap paket Sembako berisi beras 5 kg, mie instan 10 pcs, minyak goreng 1 kg dan gula putih 1 kg. Bantuan Sembako dari institusi tersebut merupakan bentuk kepedulian di masa pandemic Covid-19 kepada pemulung, pekerja sektor persampahan dan warga sekitar pembuangan sampah. Tujuan utamanya adalah ikut memperingan beban mereka di masa ekonomi sulit.

Aktivitas berbagi tersebut hendaknya diikuti oleh corporate atau perusahaan lain, terutama di wilayah Bekasi Raya atau Jabodetabek. Sehingga terbentuk solidaritas dan gotong royong di masa sulit.

Sebelumnya Ditjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) KLHK RI memberi bantuan sebanyak 500 paket APD kepada pemulung. APD tersebut diserahkan pada Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) pada 18 Mei 2020. Setiap paket APD berisi sepatu boots, masker, sarung tangan, kaca mata dan topi. Bantuan APB ini merupakan bagian bantuan besar yang diserahkan KLHK kepada sejumlah komunitas dan lembaga, bank sampah, pemulung di seluruh Indonesia.

Metode pendistribusian Sembako berdasar hasil mapping yang dibuat APPI bersama Komunitas Pemulung dan warga sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. Sehingga terbangun titik-titik pendistribusian dan mengutamakan pemulung, warga miskin dan lansia yang bermukim jauh dari jalan raya. Mereka selama ini kurang diperhatikan dan bila ada pembagian Sembako terlupakan. Jadi, menyelusuri mereka yang belum atau baru sekali mendapat bantuan Sembako selama masa pandemic Covid-19. Agar terbentuk prinsip pemerataan dan keadilan.

Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) Bagong Suyoto mengatakan Sejak November 2019 sampai wabah Covid-19 menjalar, Juni 2020 kehidupan social ekonomi pemulung dan pekerja sektor persampahan semakin sulit. Akibat dampak harga-harga pungutan sampah terjun bebas atau pindah harga, bahkan sejumlah barang tidak laku jual, seperti plastik lembaran dan plastik kresek. Contoh harga sampah gabrugan/capuran hanya Rp 500-600/kg dari Rp 1.000-1.200/kg, slopan dari Rp 1.000/kg terjun tinggal Rp 200/kg, plastik ember dari Rp 2.500/kg terjun hingga Rp 800-1.000/kg, PE/botol dan mainan dari Rp 4.500/kg terjun menjadi Rp 2.000/kg. Imbasnya, sejumlah pelapak, usaha pencacahan plastik dan pabrik daur ulang tutup.

Ketika pemulung menjual hasil pungutannya ke pelapak, barang ditimbang tapi tak dibayar alias dihutang. Bahkan beberapa kali menimbang barang tak dibayar sama pelapak atau bosnya. Belum lagi kena potongan sebesar 15-20%. Ada juga yang potongannya hingga 35%, seperti sampah jenis kertas. Nasib pemulung terjepit dan terhimpit kedalam struktur ekonomi paling dasar dan sangat rentan. Posisi pemulung sangat lemah. Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti beras, lauk-pauk, dll harus menggadaikan sepeda motor atau barang berharga lainnya. Sedang untuk mencari panjaman susah, kecuali ke rentenir dengan bunga cukup tinggi, 10-20%.

Kondisi sekarang ini meskipun banyak hasil pungutan sampah tetapi sulit menjualnya. Rata-rata para pelapak dan bos tidak mempunyai uang kontan. Karena ketika pelapak menjual ke pabrik daur ulang juga tidak langsung dibayar alias dihutang.

Pemulung dalam kategorial sektor informal tersebut nekad mengais sampah tiap hari tak mempedulikan wabah Covid-19 dalam upaya mempertahankan hidup. Prinsipnya yang penting bisa hidup. Kebutuhan primer, pangan menjadi tumpuan utama. Demikian pula para buruh sortir sampah dan pakerja sektor persampahan harus tetap bekerja.

Sejumlah pemulung yang belum mendapat bantuan Sembako sebab income-nya kecil, rela makan nasi dengan lauk garam atau trasi goreng. Sementara anak-anak kecil makan mengikuti menu orang tuanya. Mereka berprinsip yang penting ada nasi.

Ketika kehidupan sulit di masa pandemic Covid-19 tersebut, mereka meminta bantuan riel pada pemerintah pusat, pemerintah daerah dan dunia usaha atau pihak lain yang peduli, berupa kebutuhan pokok dan uang tunai supaya dapur bisa ngebul. Para pelaku 3R (reduce, reuse, recyle) sampah sudah sewajarnya mendapatkan respon dan apresiasi sepantasnya dari pemerintah dan dunia usaha.

Peran pelaku 3R, yakni pemulung misalnya dapat mengurangi sekitar 20-25% sampah an-organik (seperti plastik, kertas, logam, beling, dll) di TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. Atau jika setiap pemulung TPST Bantagerbang mampu mengais sampah rata-rata 150 kg x 6.000 pemulung/hari atau 900 ton/hari. Artinya pemulung mampu mengurangi sampah sebanyak 900 ton/hari. Jumlah timbulan sampah DKI Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang sekitar 7.500-7.800 ton/hari.

Namun, jumlah sampah yang ditumpuk di landfill volumenya masih sangat besar, 6.600 – 6.900 ton/hari. Pada masa pandemic Covid-19, sampah DKI berkurang sementara sekitar 620 ton/hari. Artinya masih sekitar 5.980 – 6.280 ton/hari. Pendeknya, sampah yang ditumpuk di zona aktif masih sangat besar. Sementara semua zona sudah penuh dengan ketinggian rata-rata 40 meter lebih.

Berbeda pemulung di pembuangan sampah sebelahnya, TPA Sumurbatu jumlah pemulung lebih sedikit, sekitar 400 orang dan sampah yang dibuang ke sini sekitar 1.500 ton/hari. Pemulung Sumurbatu setidaknya dapat mengurangi sampah: 400 x 150 kw atau sekitar 60 ton/hari. Artinya, sampah yang ditumpuk di zona sangat besar sekitar 1.440 ton/hari. Jumlah volume sampah tersebut belum semua sampah di wilayah Kota Bekasi masuk ke TPA Sumurbatu.

Aktivitas pemulung mengurangi sampah di TPST dan TPA sangat jelas nyata, kemudian muncul aktivitas produktif turun, seperti perlapakan di dalamnya ada kegiatan sortir sampah, usaha pencacahan plastik, pabrik biji plastik dan daur ulang. Semua itu mengembalikan sampah menjadi sumber daya (return to resorce). Merupakan bentuk penghematan terhadap sumber daya alam.

Mereka itu secara terang benderang menjalakan amanah UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Sampah, UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, PP No. 81/2018 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga dan peraturan terkait.

APPI meminta pemerintah pusat dan dunia usaha agar senantiasa memperhatikan dan membantu pemulung, buruh sortir sampah, pekerja sektor persampahan dan warga sekitar pembuangan sampah ketika ekonomi sulit di masa pandemic Covid-19, terutama kecukupan pangan. KLHK secara bertahap merespon permintaan APPI dan komunitas pemulung.

Selanjutnya, pasca-pademi Covid-19 supaya membantu dalam recovery dan pemberdayaan sosial ekonomi dengan dukungan kebijakan stabilitas harga, stimulan permodalan, teknologi dan pasar daur ulang guna perbaikan taraf hidupnya. * 17/6/2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here