Pengurangan volume sampah yang masuk ke Bantargebang tersebut secara tidak langsung akan memengaruhi penghasilan pemulung.

Menurut Bagong Suyoto, Ketua Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), sebelum pandemi, harga sampah satu karung yang disebut gabrukan berkisar Rp 1.000–Rp 1.200.

Sekarang, nilai satu karung gabrukan itu berkurang menjadi Rp 600. Satu gabrukan, menurut penjelasan Bagong, berisi lebih kurang 40-50 buah sampah plastik, kertas, kaca, dan kaleng.

Penghasilan pemulung per hari, menurut Penelitian ”Sosio Kultur Pemulung dan Perannya dalam Keseimbangan Lingkungan Sekitar dengan Mengategorikan Barang Bekas (Suhartono, 2015)”, adalah Rp 13.770.

Penghasilan per hari tersebut juga lebih kurang sama dengan pemulung di TPA Sumur Batu, Bekasi (Potret Kehidupan Pemulung dalam Bayangan Kekuasaan dan Kemiskinan [Bagong, 2015])”, yakni Rp 15.000–50.000.

Dalam situasi pandemi yang masih belum berakhir hingga kini, penurunan harga satu gabrukan sampah sekitar 50 persen, bisa jadi akan mengurangi penghasilan pemulung 50 persen juga.

Penghasilan mereka tersisa hanya berkisar Rp 6.500 hingga Rp 7.500 untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here