MENCARI MESIAS DI TENGAH GUNUNGAN SAMPAH

    0

     

     

    Oleh Bagong Suyoto
    Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) dan Asosiasi Pelapak dan Pulung Indonesia (APPI)

    BLUWENG: MENCARI MESIAS DI TENGAH GUNUNGAN SAMPAH merupakan buku yang ditulis Bagong Suyoto (2007). Tulisan ini merupakan Bab 10 yang membahas kondisi manusia yang pusing tujuh keliling atau bluweng (istilah lokal) mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi pemulung, pelapak dan warga miskin sekitar tempat pembuangan sampah.

    10.3. Menemukan Mesias
    Bilamana atau kapan mesias itu akan datang dan menghampiri orang-orang kecil yang hidup di tengah-tengah gunungan sampah? Bisa cepat, atau sebaliknya, sangat lambat. Karena persoalan ini adalah murni persoalan dunia, tetapi jika dirunut secara jernih memiliki keterkaitan dengan setelah kehidupan ini. Bagi masyarakat miskin Indonesia sangat percaya, bahwa mesias itu ada, bisa saja mesias itu masih bersembunyi di padepokan yang terletak di atas Gunung Sanggabuana, Gunung Gede, Gunung Semeru atau di pantai laut selatan. Dia akan muncul setelah meletus huru hara dunia ini, yang diindikasikan oleh perilaku pemimpin yang mursal, menindas dan menginjak-injak hak asasi manusia (HAM) serta membuat kerusakan di dunia ini. Perseteruan sesama manusia semakin parah dan sulit dihentikan, meskipun sumber konflik itu mulanya sangat sederhana.

    Misal tentang persoalan penempatan TPA sampah atau pengelolaan sampah, tetapi karena semua mempertahankan ego, kesombongan dan vested interest sendiri-sendiri maka persoalan itu menjadi semakin besar dan sulit dipecahkan. Renungkan kasus TPST Bojong-Bogor, kasus TPA Bantar Gebang – Bantar Gebang, kasus TPA Leuwigajah – Cimahi Bandung, dan sebagainya. Ujung-ujungnya memakan tumbal orang-orang kecil dan miskin, termasuk pemulung yang mati tertimbun longsoran sampah.

    Dewa penyelamat yang mampu menyelesaian permasalahan sampah di kisaran Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan kota-kota besar di Indonesia adalah manusia sendiri. Manusia yang memiliki akhlak mulia. Semua orang mempunyai kehendak, kepedulian dan integritas untuk memperbaiki kondisi yang sudah demikian parah ini. Manusia yang pro pada kelestarian lingkungan, harkat dan martabat orang miskin dan lemah. Manusia itu pemulung, pelapak, warga kisaran TPA sampah, pengusaha daur ulang, pemerintah, wakil rakyat (DPR), aktivis lingkungan (NGO), perempuan, intelektual, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seterusnya. Bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, pemimpin yang mestinya dapat melindungi dan mengelola dunia ini untuk kemakmuran dan kebaikan umat manusia. Demikian juga mengelola sampah untuk kebaikan manusia, melindungi kelestarian lingkungan hidup, kesehatan manusia, air tanah dan keseimbangan ekosistem.

    Bila menemukan mesias yang berotak dan berhati mempedulikan masyarakat kecil, HAM, lingkungan hidup, sanitasi dan kesehatan, serta teknologi yang ramah lingkungan maka berarti telah ditemukan apa yang diimpi-impikan mereka. Bahwa pengelolaan sampah ke depan harus bertumpu pada teknologi tinggi (canggih) atau teknologi tepat guna yang dapat mengatasi dan menyelesaikan persoalan manusia, juga dapat meningkatkan derajat dan kesejahteraan manusia. Secara mendalam dapat merubah dan meningkatkan image dari suatu yang kotor menjijikan menjadi emas bernilai tinggi. Orang mempunyai pencaharian dan tinggal di sekitar TPA sampah tidak memalukan, merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan.

    Tetapi sebaliknya, ia merasa bangga hidup di lingkungan tersebut. Daerah itu sebagai simbol kecerdasan manusia, merubah sesuatu yang beraroma menjijikan menjadi menyenangkan. Dari sesuatu yang dibenci menjadi sesuatu yang dicari dan disayang. Lahan-lahan disini akan dicari dan dibeli orang dengan harga yang setara dengan daerah lain, bahkan lebih tinggi. Orang di luar wilayah ini akan menerima dan bersedia tinggal di sini, termasuk orang-orang yang memiliki posisi kunci atau orang berpangkat baik tingkat daerah maupun pusat. Penulis bersama Pusat Industri Daur Ulang Sampah (PIDUS) – Zero Waste Indonesia tiga tahun lalu telah membangun paradigma itu yang dikenal dengan “Garbage today Gold tomorrow”. Lebih luas dipekernalkan oleh Koalisi LSM Untuk Persampahan Nasional. Dan, di Jepang konsep ini dikenal dengan Eko-Industrial-Park. Penyelesaian penanganan sampah tidak selalu harus menggunakan teknologi tinggi, tetapi teknologi tepat guna dan melibatkan dukungan level komunitas-komunitas di seluruh Indonesia.

    Dalam konteks ini harus ada pemimpin atau pejabat tinggi yang memiliki peran sangat strategis yang bersedia merubah paradigma pengelolaan sampah yang dijalankan selama ini. Disamping itu adanya dukungan yang kuat dari berbagai komponen masyarakat mendorong pembaruan paradigma pengelolaan sampah, sebagai wujud ketertiban masyarakat dalam men-design paradigma pengelolaan sampah seperti yang diinginkan bersama. Masalah teknologi adalah masalah kedua, setelah berbagai komponen masyarakat dan pemimpin atau petinggi negara ini membuat kesepakatan bersama sebagai social contract.

    Bahwa pembangunan apa pun termasuk proyek TPA sampah hendaknya dimulai dengan adanya kontrak-kontrak sosial. Hal ini untuk menghindari konflik-konflik sosial seperti yang berkembang selama ini, yang disebabkan faktor pengabaian peran masyarakat sekitar proyek. Mungkin tujuannya, agar lebih cepat dan efesien atau adanya faktor X. Faktor X dapat diartikan adanya sesuatu niat yang terselubung (busuk), mungkin ada kolusi dan korupsi, mungkin ada kebohongan terhadap publik, mungkin adanya faktor X, dan X lagi. Begitulah sulitnya memahami otak-otak birokrat yang politikus dan pengusaha. Sebentar lagi pensiun, kapan lagi kalau tidak merintis usaha dari sekarang, mumpung punya kekuasaan, banyak birokrat yang berotak pengusaha di negeri ini.

    Resiko yang muncul atas pengabaian partisipasi masyarakat, setelah proyek berjalan meledaklah protes dan perlawanan warga, dan implikasinya ongkos sosial dan politik yang ditanggung lebih mahal. Rakyat kecil, rakyat sekitar kawasan proyek adalah mesias-mesias yang riel dan ampuh serta menunjukkan jalan yang lurus. Mereka juga memberikan berkah kepada para pemimpin, penentu kebijakan, pelaksana dan pengelola proyek. Partisipasi masyarakat yang sesungguhnya mampu memberikan kenikmatan tersendiri. Ingat adagium, bahwa suara rakyat adalah suara sang penguasa alam semesta ini. Rakyat yang memiliki akhlak mulia.

    10.4. Mencontoh Manusia Lain
    Kenapa kegagalan mengelola sampah itu terjadi berulangkali, padahal manusia Indonesia bukanlah kerbau. Apakah kita tidak pernah belajar pada orang lain, setidaknya hanya mendengar sedetik saja? Jika kita diperingatkan atau dikritik orang lain ulahnya seperti kerbau dicocok hidungnya. Marah dan lari terbirit-birit mencari gua untuk bersemedi atau penginapan untuk meluapkan hawa nafsu hewani. Sungguh luar biasa kelakukan orang dan pemimpin Indonesia itu. Ini bagian dari otokritik yang sangat fundamental.

    Pengelolaan sampah seharusnya menjadi gerakan nasional, bukan hanya daerah per daerah, berdasarkan pengalaman selama ini, mereka telah berbuat aniaya, membuat kerusakan di muka bumi. Sampah tidak dikelola sebagaimana perencanaan awal, berdasarkan standar-standar yang telah dibuatnya, standar-standar yang berkualitas tinggi.

    Kenapa bangsa-bangsa lain mampu menangani sampah dalam negerinya namun kita malah sebaliknya?. Ada apa dibalik semua itu? Contoh di Singapura, Jepang, Malaysia, Australia sampah dapat dikelola dengan baik, bahkan tak seorang warga pun yang berani membuang sampah sembarangan. Contoh lain di Australia dengan teknologi tepat guna sampah dapat dikelola dan memberi manfaat yang tinggi terhadap petani dan penduduk sekitar, yakni untuk kegiatan pengkomposan dari sampah dapat dimanfaatkan untuk penyubur tanah dan tanaman. Proyek kompos yang dijalankan tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah Australia. Proyek itu dikenal dengan “City to Soil”. Merupakan pilot project yang diliris oleh Departement of Environment and Conservation dan Queanbeyan City Council. Proyek ini diluncurkan tahun 2000, setelah empat tahun berjalan kemudian dikeluarkan laporan keberhasilan proyek kompos tersebut.

    Dalam laporan yang dibuat tahun 2004 dinyatakan; “A composting program from the collection of “green waste” or garden organic waste from households in Queanbeyan has been in operation since early 2000. The collected material is processed into compost. The practice reduces the payment of landfill fees, and contributes to the local economy by providing jobs in the community” (Departement of Environment and Conservation, Resource Recovery Models – Development of markets for household collected organic Queanbeyan, Project Report, July 2004, hal. 4).

    Selanjutnya disebutkan; “A research project was designed and undertaken in 2003 and 2004 on a property called “Moocoin” to demonstrate that the marketability of compost products can be improved by sourcing garden organic waste of higher quality. The project aimed to identify potential benefits associated with on-farm application of compost. Dr. Sara Beavis, Research Fellow at the Australian National University, designed a trial on vineyard to evaluate the benefits of soil organic matter, moisture holding capacity, stability, soil biodiversity, soil biomass and net growth of vine”.

    “The project also showed the community awareness and understanding increased from December 2003 (before the trial) to May 2004. However, attitudes to a rewards system for providing clean organic garden waste were mixed. Many thought it would work, but also expressed reservations at the need a rewards system, as environmental efforts should be motivated on ethical and moral grounds”. Departement of Environment and Conservation, Resource Recovery Models – Development of markets for household collected organic Queanbeyan, Project Report, July 2004).

    Pelajaran yang diperoleh dari negeri Kanguru itu memang sangat berguna bila manusia Indonesia memiliki keseriusan dalam penyelesaian penanganan sampah. Bahwa teknologi itu bukan segala-galanya, kecuali ada kehendak, komitment dan kejujuran manusia Indonesia dalam menyelasaian persoalan persampahan dalam negeri yang terasa semakin hari semakin menakutkan. Penduduk kota Queanbeyan membersihkan dan mengolah sampah kota bersama-sama sebagai tanggung jawab terhadap kebersihan, keindahan kota, menjaga air tanah dan permukaan serta menjaga lingkungan dan kesehatan. Manusialah yang paling utama dapat mengatasi persoalan sampah sedang teknologi adalah nomor dua.

    Apa slogan yang kita usung? “Membangun Komunitas adalah Membangun Indonesia”.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here